AVIASI TERDAMPAK COVID-19 – PEMULIHAN PENERBANGAN MUNDUR 2023

Bisnis, JAKARTA — PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II memprediksi penerbangan domestik akan pulih ke level prapandemi Covid-19 mulai 2023, sedangkan penerbangan internasional setahun setelahnya.

Bisnis Indonesia, Senin, 28 September 2020, halaman 7

Pemulihan itu lebih lambat dari hasil kajian yang dikeluarkan tim Universitas Indonesia yang memprediksikan industri aviasi akan pulih pada 2022 jika vaksin tersedia mulai awal tahun depan.

Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin mengatakan penerbangan domestik akan pulih lebih awal sesuai dengan karakteristik negara kepulaun dengan tingkat permintaan tinggi untuk rute domestik. Berdasarkan pengamatannya, melanjutkan pemulihan dari rute domestik akan dimulai dari rute Jawa-Sumatra yang selama ini mengambil porsi 26% dalam pangsa pasar domestik atau sebanyak 23,4 juta pergerakan.

Selanjutnya, rute intra-Jawa yang merupakan pangsa pasar terbesar kedua yakni 18% dengan sebanyak 16,5 juta pergerakan. Setelah itu rute Jawa-Kalimantan dengan 9% pangsa pasar atau sebanyak 8 juta penumpang. “Pada akhir 2023 untuk rute domestik komposisinya bisa mulai dengan pada saat sebelum krisis.

Kita masih diberkahi rute domestik. Kalau traffic internasional bisa pulih dengan tambahan 1 tahun lebih lama yakni 2024,” katanya, Minggu (27/9). Sesuai skenario, dia menyatakan tingkat kepercayaan penumpang akan mulai tumbuh secara perlahan pada tahun depan dengan jumlah penumpang pesawat domestik sebanyak 92 juta orang dan 16 juta penumpang internasional.

Pada 2022, dia memperkirakan jumlah penumpang domestik naik menjadi 124 juta orang dan 22 juta penumpang internasional. Awaluddin memproyeksikan jumlah penumpang, baik rute domestik maupun internasional, hingga akhir tahun ini tidak akan mencapai lebih dari 70 juta. Menurutnya, proyeksi itu mengacu terjadinya perubahan konstelasi dalam komposisi struktur penumpang internasional yang tergerus signifikan akibat pandemi virus corona.

Selama ini, paparnya, perbandingan pergerakan penumpang domestik dan internasional mencapai 80% berbanding dengan 20%. Namun, dia menegaskan jumlah penumpang internasional pada tahun ini komposisinya hanya 13%. “Pergerakan pada 2020 menjadi berbeda karena pandemi forecast kita dari berbagai sumber tahun ini tidak menembus di atas 70 juta pergerakan,” kata Awaluddin.

Handy Heryudhitiawan, VP Corporate Communication PT AP I, juga sependapat pemulihan penerbangan pada masa pandemi Covid-19 tidak dapat dilakuan dalam waktu singkat. Dia menilai jumlah penumpang pesawat udara akan kembali pulih seperti sebelum pandemi Covid-19 mulai 2023. Menurutnya, seluruh pihak perlu menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan konsisten. Hingga saat ini, kata dia, penerbangan domestik merupakan harapan utama untuk meningkatkan pergerakan penerbangan selama pandemi virus corona.

Pada 2020, dia memproyeksikan trafik penumpang di bandara AP I hanya sebanyak 26 juta penumpang, sekitar 65 juta penumpang pada 2021, dan 76 juta penumpang pada 2022. Saat ini, AP I berupaya meningkatkan pelayanan agar calon penumpang melalui proses pemeriksaan dokumen syarat penerbangan dengan relatif mudah dan nyaman.

Selain itu, AP I menggandeng Incheon International Airport Corporation (IIAC) untuk menerapkan pedoman Safe Corridor Innitiative (SCI) dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali sebagai proyek pencontohan. Pedoman SCI ini merupakan pedoman berstandar global terkait dengan implementasi protokol kesehatan di bandara. “Kami mengharapkan dengan implementasi protokol kesehatan yang ketat dan kemudahan proses pemeriksaan di bandara dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk melakukan perjalanan udara,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Tbk. Irfan Setiaputra berpendapat pemulihan penerbangan yang paling agresif adalah selama 2 tahun atau pada 2022. Pendapat itu juga mematahkan hasil riset global bahwa penerbangan dunia akan pulih selama 4 tahun mendatang. Namun, Irfan menganggap selama 2 tahun mendatang maskapai harus mengejar pendapatan dari sektor lainnya, karena tingkat permintaan tidak akan cukup membantu. Saat ini, Garuda berfokus pada penerbangan kargo dan domestik. “Penerbangan internasional masih memerlukan persyaratan dari pemerintah negara tujuan,” kata Irfan.

RUTE DOMESTIK

Pemilik AirAsia Group Tony Fernandes menyatakan tidak mengetahui seperti apa masa depan bisnis penerbangan penumpang dan barang pascapandemi Covid-19. Namun, maskapai bertarif hemat tersebut tetap menambah rutenya di beberapa negara. Dia mencontohkan AirAsia telah membuka dua rute domestik baru di Thailand. Dia berkeyakinan rute pendek atau domestik memiliki peluang untuk pulih lebih cepat ketimbang antarnegara. Hal tersebut tercermin dari tingkat okupansi yang sudah mencapai batas maksimal di beberapa rute domestik Thailand dan Malaysia. “Business travel, penerbangan antarbenua, first class travel akan membutuhkan waktu lama untuk bangkit,” kata Fernandes.

Sebaliknya, pemerhati penerbangan dari Jaringan Pernerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman menilai pemulihan industri penerbangan ke tatanan normal bisa dipercepat jika pemerintah menangani kasus penyebaran Covid-19 dengan lebih baik. Bila penanganan baik, dia yakin 90% dari pasar penerbangan domestik akan pulih tidak lama setelahnya. Bila vaksin sudah ditemukan, dia menegaskan tidak akan serta merta memulihkan kondisi menuju sebelum krisis karena masih membutuhkan beberapa tahun lagi hingga wabah terkendali.

“Sekarang angka penumpang kita masih di bawah 50% dari biasanya. Ini berat bagi industri. Kita harus dapat 70% pada akhir kuartal I/2021. Kalau tidak mau sektor ini kolaps,” jelasnya. Dia menjelaskan pemulihan bagi wisatawan domestik juga masih sulit dilakukan selama wabah masih berlangsung. Dia menyarankan maskapai lebih baik fokus kepada perjalanan bisnis. Namun, dia menilai kebijakan yang ada masih tumpang tindih satu sama lain dan berada di luar kewenangan Kementerian Perhubungan.

Dia menilai penerbangan masih terkendala syarat menggunakan rapid test yang tidak efektif, apalagi sebagai pretesting. Masyarakat masih takut ketularan di pesawat padahal resiko tertular di tempat tujuan lebih besar daripada tertular di pesawat. Selama masa wabah, dia mengusulkan rapid test ditiadakan dan diganti dengan swab test yang jauh lebih akurat. Dalam kesempatan lain, Manajer Hubungan Masyarakat Perum LPPNPI/AirNav Indonesia Yohanes Sirait mengatakan saat ini penerbangan domestik lebih bertahan dibandingkan dengan penerbangan internasional dengan tingkat permintaan tinggi untuk transportasi antarpulau. Dia mencatat penerbangan domestik masih berjalan pada kisaran 40% hingga 50% dari pergerakan normal, sedangkan internasional dan overflying berada pada kisaran antara 10% hingga 20%. Dengan data itu, dia menilai penerbangan domestik berpotensi akan lebih cepat pulih dibandingkan dengan internasional. “Namun, saat ini memang pergerakan yang ada belum sepadat seperti pada masa normal,” kata Yohanes.

Sumber : Bisnis Indonesia, Senin, 28 September 2020

Anitana W. Puspa – anitana.puspa@bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s