Pesawat Citilink yang Tabrak Layang-layang Mendarat Selamat, Kru dan Penumpang Aman

pesawat-citilink-yang-tabrak-layang-layang-mendarat-selamat-kru-dan-penumpang-aman
Tim teknik Citilink Indonesia menyingkirkan layang-layang yang tertabrak pesawat yang ingin mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. (Sumber: dok. PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto via Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Pesawat Citilink yang mengalami insiden menabrak layang-layang saat melakukan pendaratan di Bandara AdisuciptoYogyakarta turun dangan selamat.

Pesawat dengan nomor penerbangan QZ 1107 jenis ATR 72-600 itu menabrak layangan yang memiliki lebar sekitar 50 sentimeter di bagian landing gear pada Jumat (23/10/2020) sore kemarin.

VP Corporate Secretary & CSR PT Citilink Indonesia Resty Kusandarina menjelaskan sebelum mendarat pilot sudah melakukan komunikasi serta berkoordinasi kepada pihak menara serta menyampaikan kondisi banyaknya layang-layang yang terbang di wilayah area bandara.

Namun karena layang-layang berada di landasan pacu dan sulit untuk dihindari, pilot berusaha agar mendaratkan pesawat dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta itu dengan baik.

“Seluruh kru dan penumpang telah mendarat selamat,” ujar Resty dalam pesannya, Sabtu (24/10/2020).

Resty menambahkan seteleh insiden tersebut, tim teknik Citilink Indonesia telah melakukan pemeriksaan seluruh bagian pesawat secara intensif.

Menurutnya, tidak ada kerusakan pada pesawat tersebut dan laik untuk beroperasi kembali.

“Kami sampaikan terimakasih kepada pihak bandara yang telah memberikan himbauan kepada masyarakat sekitar terhadap bahaya bermain layangan di sekitar area bandara,” ujar Resty.

Pesawat menabrak layang-layang pada pukul 16.46 WIB. Sekitar tiga menit setelah mendarat, layang-layang tersebut ditemukan di roda pesawat.

Kejadian itu tidak mengganggu lalu lintas dan jadwal penerbangan di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta.

Petugas sudah menindaklanjuti lebih dalam dan tidak ditemukan kerusakan dan kondisi pesawat dipastikan siap terbang.

Pihak bandara juga telah melakukan sosialisasi dan mengimbau agar masyarakat tidak bermain layangan di kawasan bandara karena dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Link: https://www.kompas.tv/article/118395/pesawat-citilink-yang-tabrak-layang-layang-mendarat-selamat-kru-dan-penumpang-aman?page=all

Maskapai Lion Air Digugat Pailit

Pesawat Lion Air Boeing 737-800NG.
Pesawat Lion Air Boeing 737-800NG.(Dokumentasi Rahmad Dwi Putra)

JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang warga bernama Budi Santoso menggugat pailit PT Lion Mentari Airlines atau Lion Air di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada 22 Oktober 2020 lalu terkait masalah utang.  Dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), Sabtu (24/10/2020), perkara tersebut diajukan dengan nomor 343/Pdt.Sus- PKPU/2020/PN Niaga Jkt.Pst. Penggugat meminta pengadilan menetapkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara terhadap Termohon PKPU PT Lion Mentari Airline paling lama 45 hari terhitung sejak putusan a quo diucapkan.

“Mengabulkan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh Pemohon PKPU terhadap termohon PKPU dan menyatakan termohon PKPU berada dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,” bunyi petitum yang diajukan Budi Santoso. Pemohon juga meminta pengadilan menunjuk dan mengangkat hakim pengawas dari hakim PN Jakarta Pusat untuk mengawasi proses PKPU terhadap termohon.

Dalam permohonannya itu, Budi Santoso juga menunjuk dan mengangkat Ronald Antony Sirait dari kantor pengacara Sirait, Sitorus, & Associates dan Monang Christmanto Sagala yang berkantor di Hotma Sitompul & Associates sebagai tim pengurus. “Untuk bertindak sebagai tim pengurus untuk mengurus harta termohon PKPU dalam hal termohon PKPU dinyatakan dalam PKPU Sementara dan/atau mengangkat sebagai kurator dalam hal termohon PKPU dinyatakan pailit,” bunyi petikan permohonan perkara. Terakhir, Budi juga memohon agar seluruh biaya perkara dibebankan kepada pihak maskapai tersebut. Sedangkan status perkara dinyatakan dalam penetapan majelis hakim.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Maskapai Lion Air Digugat Pailit”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/24/083420926/maskapai-lion-air-digugat-pailit.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris

Berlaku Besok, Pemerintah Hapus Airport Tax di 13 Bandara

Calon penumpang di bandara berjalan menuju pesawat terbang komersil. (Foto ilustrasi)
Calon penumpang di bandara berjalan menuju pesawat terbang komersil. (Foto ilustrasi)

VIVA – Pemerintah menghapus biaya Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau seringkali dikenal sebagai Passenger Service Charge (PSC) di 13 bandara yang ditentukan. Pembebasan Airport Tax itu diberikan kepada para penumpang yang berangkat dalam upaya mendorong kebangkitan industri penerbangan dan pariwisata.

“Setiap penumpang tidak dibebani biaya PSC, karena akan dikeluarkan dari komponen biaya tiket, dan biaya PSC-nya akan ditagihkan oleh operator bandara kepada Pemerintah,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Kamis.

Stimulus PJP2U ini akan diberlakukan bagi calon penumpang yang membeli tiket mulai dari tanggal 23 Oktober 2020 jam 00.01 WIB hingga 31 Desember 2020 jam 23.59 WIB. “Dan tiket yang dibeli untuk penerbangan sebelum jam 00.01 tanggal 1 Januari 2021,” katanya.

Hal tersebut disampaikan usai Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pemberian Stimulus Penerbangan Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara dan Pemberian Stimulus Pelayanan Jasa Kalibrasi Fasilitas Penerbangan, yang antara lain dihadiri oleh Dirut PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, Dirut PT Angkasda Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, serta Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Denon Prawiraatmadja.

Dikatakan Novie, pandemi COVID-19 menjadi mimpi buruk bagi industri penerbangan yang berdampak pada anjloknya arus penumpang dari dan ke berbagai daerah, sehingga pemerintah melalui Kementerian Perhubungan perlu memberikan insentif atau stimulus penerbangan.

Harapan dari stimulus Tarif PJP2U ini, katanya, akan memberikan keringanan bagi para penumpang untuk bepergian menggunakan jasa transportasi udara yang akhirnya akan membangkitkan pertumbuhan industri lainnya seperti pariwisata dan UMKM.

Stimulus berupa penyediaan biaya kalibrasi fasilitas navigasi penerbangan dan alat bantu pendaratan pesawat yang menjadi kewajiban operator bandara baik Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, Bandara Hang Nadim Batam dan Bandara Komodo-Labuan Bajo ditanggung oleh Pemerintah. Sehingga, dapat meringankan beban biaya operasional operator bandara akibat pandemi COVID-19.

Dikatakan, stimulus tarif PJP2U atau PSC akan berlaku di 13 bandara udara yaitu Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK), Hang Nadim, Batam (BTH), Kuala Namu, Deliserdang (KNO), I Gusti Ngurah Rai, Denpasar (DPS), Yogyakarta Internasional, Kulon Progo (YIA), Halim Perdanakusuma, Jakarta (HLP), Internasional Lombok, Praya (LOP), Jenderal Ahmad Yani, Semarang (SRG), Sam Ratulangi, Manado (MDC), Komodo, Labuan Bajo (LBJ), Silangit (DTB), Blimbingsari, Banyuwangi (BWX), Adi Sucipto, Yogjakarta (JOG).

Stimulus PJP2U ini tentunya adalah berita baik bagi masyarakat dan industri penerbangan, diharapkan dengan stimulus ini masyarakat akan mendapatkan keringan biaya perjalanan menggunakan maskapai dengan berbagai tujuan, yang akhirnya akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah, seperti industri pariwisata, sektor UMKM dan juga industri lainnya.

Tentu saja di tengah pandemi ini diharapkan masyarakat pengguna jasa transportasi udara tetap mengutamakan protocol Kesehatan dengan tetap menerapkan 3 M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dan juga menjaga jarak.

Kemenhub berharap bagi operator penerbangan maupun operator bandar udara dengan adanya stimulus PJP2U menjadi berita baik, dengan harapan peningkatan pengguna jasa transportasi udara, namun di sisi lain para pemangku kepentingan penerbangan tetap diwajibkan menaati SE Dirjen Nomor 13 Tahun 2020. (Ant)

Link: https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1314905-berlaku-besok-pemerintah-hapus-airport-tax-di-13-bandara

AirAsia X Berhenti Beroperasi di Indonesia, Ada Apa?

Foto Pesawat Airbus A330-900 yang dipesan AirAsia X(dok AirAsia X, Airbus)

JAKARTA, KOMPAS.com – Maskapai AirAsia X berencana menutup operasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, maskapai yang merupakan bagian dari AirAsia Group itu belum dapat beroperasi sejak Maret lalu. Deputy Chairman Air Asia X Lim Kian Onn mengatakan, penutupan operasional juga merupakan bagian dari restrukturisasi yang tengah dilakukan maskapai guna menghapus utang sebesar 63,5 miliar ringgit atau setara Rp 222 triliun (asumsi kurs Rp 3.500 per ringgit).

Lim mengaku kesulitan untuk mendapatkan persetujuan dari para investor dan kreditur. Pasalnya, mereka merasa kecewa dan meminta meminta persyaratan yang lebih baik, termasuk ekuitas gratis untuk utang yang dihapuskan. Namun, Lim menambahkan, hal itu tidak mungkin dipenuhi oleh maskapai penerbangan.  Meskipun begitu, Lim memastikan bahwa pihaknya akan menemukan jalan tengah guna memajukan bisnis maskapai.

“Tidak ada yang bisa mendapatkan keuntungan dari ditutupnya usaha kami,” ujarnya dikutip dari The New Straits Times, Senin (19/10/2020). Sebagai informasi, AirAsia X merupakan maskapai yang difokuskan untuk melayani penerbangan jarak jauh, dengan waktu terbang lebih dari 4 jam. CEO AirAsia Group Tony Fernandes pun mengakui, penerbangan jarak jauh akan memakan waktu pulih lebih lama ketimbang jarak dekat. “Business travel, penerbangan antarbenua, first class travel, akan membutuhkan waktu lama untuk bangkit,” ucap Fernandes.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “AirAsia X Berhenti Beroperasi di Indonesia, Ada Apa? “, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/19/140800926/airasia-x-berhenti-beroperasi-di-indonesia-ada-apa.
Penulis : Rully R. Ramli
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Boeing 737 MAX Dinyatakan Aman Terbang oleh Regulator Penerbangan Eropa

Boeing 737 MAX Dinyatakan Aman Terbang oleh Regulator Penerbangan Eropa

ejak insiden yang menimpa Boeing 737 MAX Lion Air dan Ethiopian, pesawat tersebut dilarang terbang di seluruh dunia. Namun, hari ini Boeing akhirnya mendapat kabar positif setelah sekian lama.

Melalui BloombergEuropean Union Aviation Safety Agency (EASA) atau regulator penerbangan Eropa telah menyatakan puas atas perkembangan yang dilakukan oleh Boeing untuk pesawat Boeing 737 MAX.

Meski demikian, bukan berarti Boeing 737 MAX akan segera terbang dalam waktu dekat. EASA melalui Executive Director-nya, Patrick Ky, menyatakan bahwa Boeing 737 MAX dinyatakan aman dan bisa kembali terbang sebelum tahun 2020 berakhir.

Saat ini EASA sedang menyiapkan dokumen final untuk sertifikasi kelayakan terbang yang seharusnya akan rampung bulan depan. Kemudian komentar dari publik akan dikumpulkan selama periode 4 minggu. Barulah setelah itu di bulan Desember 2020, Boeing 737 MAX bisa kembali mengudara di langit Eropa.

Boeing 737 MAX 8 milik Garuda Indonesia. Foto oleh Ikhwan Hidayat

Boeing 737 MAX Dituntut Lebih Baik

Meski sudah dinilai layak terbang, namun EASA nampaknya tidak akan puas dengan perkembangan saat ini. Kedepannya, EASA juga mengharapkan perkembangan lanjutan untuk Boeing 737 MAX. Spesifiknya, sistem sensor sintetis ketiga akan dipasang untuk meningkatkan level keamanan dari pesawat tersebut.

Pada insiden terjatuhnya pesawat Lion Air & Ethiopian, sistem sensor angle-of-attack (AOA) pada kedua pilot mengalami malfungsi. Sensor sintetis ketiga tersebut akan menjadi fitur back-up yang membantu pilot untuk melihat apakah pesawat mengarah ke atas atau ke bawah.

Disebutkan bahwa perlu waktu 2 tahun untuk mengembangkan sensor tambahan tersebut, yang mana akan diwajibkan pada varian terbesar Boeing 737 MAX 10 yang akan mulai beroperasi di tahun 2022.

Penutup

Regulator penerbangan Eropa telah memberikan lampu hijau untuk pesawat Boeing 737 MAX. Kemungkinan besar kita bisa melihat pesawat tersebut mulai terbang di langit Eropa sebelum tahun 2021. Melihat perkembangan positif tersebut, tidak menutup kemungkinan pesawat tersebut akan turut mendapat sertifikasi & kembali terbang juga di benua lain.

Ketika kembali terbang, saya cukup percaya bahwa Boeing 737 MAX akan menjadi salah satu jenis pesawat teraman. Wajar saja mengingat banyaknya uji coba dan regulasi baru yang harus dipenuhi oleh Boeing. Meski masih ada keraguan, saya pribadi tidak masalah untuk terbang di pesawat tersebut.

Link: https://pinterpoin.com/boeing-737-max-aman-terbang-eropa/

Kiat Maskapai Bertahan Saat Pandemi: Thai Airways Jualan Gorengan, AirAsia Bisnis Akikah

Gerai penjualan patong-go di gedung THAI Catering, Bangkok.
Gerai penjualan patong-go di gedung THAI Catering, Bangkok.(FACEBOOK THAI CATERING)

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyebaran pandemi virus corona ( Covid-19) membuat performa industri maskapai babak belur. Jumlah penumpang anjlok seiiring dengan pembatasan aktivitas di berbagai negara. Tak mau tinggal diam menanti ancaman kebangkrutan, perusahaan maskapai penerbangan terpaksa merambah bisnis lain agar bisa tetap bertahan. Salah satu kiatnya yakni memanfaatkan anak usaha atau divisi bisnis katering untuk meraup pendapatan tambahan. Sebagaimana diketahui, industri kuliner memang relatif kebal terhadap pandemi Covid-19. Belanja masyarakat yang masih tinggi terhadap konsumsi makanan jadi tolok ukurnya. Berikut contoh dua maskapai penerbangan yang terjun ke bisnis kuliner.

1. AirAsia buka bisnis daging akikah

Maskapai penerbangan swasta terbesar Malaysia ini baru saja mengumumkan langkah bisnis dengan terjun ke perdagangan daging akikah. Populasi muslim di Negeri Jiran yang besar, membuat prospek bisnis daging kambing untuk aqiqah sangat potensial. Selain itu, AirAsia juga fokus menggarap pasar umat muslim di luar negeri yang jadi wilayah operasional armada pesawat AirAsia seperti Timur Tengah, Bangladesh, Thailand, dan India. Permintaan daging akikah selalu tinggi dan tak mengenal musim. Air Asia sendiri meluncurkan platform penjualan online bernama Ikhlas yang bisa diakses di laman ikhlas.com/aqiqah. Bisnis daging akikah ini dijalankan anak perusahaannya, Ikhlas Com Travel Sdn Bhd yang berkantor pusat di Kuala Lumpur Sentral, Kuala Lumpur, Malaysia.

Harga kambing yang ditawarkan bervariasi yakni antara RM 499 atau sekitar Rp 1,77 juta (kurs Rp 3.500) dan paling mahal sebesar RM 799 atau sekitar Rp 2,83 juta. “Sebagai bagian dari ekspansi bisnis digital grup AirAsia, Ikhlas, lini bisnis airasia.com yang melayani platform gaya hidup Muslim hari ini meluncurkan layanan terbarunya, aqiqah,” tulis Air Asia di laman resminya seperti dikutip pada Senin (12/10/2020).

2. Thai Airways jual gorengan

Thai Airways adalah satu contoh maskapai yang terbilang sukses menggeluti bisnis kuliner di luar katering penerbangan di saat pandemi Covid-19. Tak tanggung-tanggung, maskapai flag carrier ini bahkan mengandalkan jualan gorengan.

Gorengan yang dijual Thai Airways cukup populer bagi masyarakat Thailand, khususnya di Bangkok. Perusahaan ini memanfaatkan aset kateringnya untuk memproduksi gorengan yang diberi nama Patong-go tersebut.

Untuk penjualannya, selain menyewa tempat di berbagai lokasi strategis, Thai Airways juga memanfaatkan aset-aset propertinya seperti kantor di berbagai sudut kota untuk lokasi berjualan. Setiap orang, orang-orang rela mengantre untuk membeli Patong-go sejak dibuka mulai pagi hari. Dikutip dari Bangkok Post, setiap kotak dijual seharga 50 baht (Rp 23.600) yang berisi tiga gorengan dan sebungkus saus celup yang terbuat dari ubi ungu dan telur custard. Beberapa lokasi penjualannya antara lain toko roti Puff & Pie di pasar Or Tor Kor, di kantor pusatnya di distrik Chatuchak, gedung Rak Khun Tao Fa, gedung Thai Catering di distrik Don Muang, serta kantor cabang Thai Airways di Silom. Thai Airways tak hanya menjual gorengan, lini bisnis kateringnya juga dimanfaatkan untuk menjual roti. Perusahaan juga menyulap restoran menjadi kabin pesawat kelas satu. Untuk membangun suasana, restoran itu dilengkapi dengan kursi yang nyaman dan awak kabin yang perhatian.

Thai Airways restoran pop up di Bangkok, Thailand.
Thai Airways restoran pop up di Bangkok, Thailand. (Dok. AFP)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kiat Maskapai Bertahan Saat Pandemi: Thai Airways Jualan Gorengan, AirAsia Bisnis Akikah”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/12/150600626/kiat-maskapai-bertahan-saat-pandemi-thai-airways-jualan-gorengan-airasia.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris

Pesawat Garuda Pakai Masker, Dukung Kampanye Pemerintah

Garuda Indonesia meluncurkan pesawat dengan corak visual bermasker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.
Garuda Indonesia meluncurkan pesawat dengan corak visual bermasker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.(Dok. Garuda Indonesia).

Jakarta, CNN Indonesia — 

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan livery atau corak khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan peluncuran livery masker pesawat ini merupakan bentuk dukungan terhadap program edukasi pemerintah melalui kampanye ‘Ayo Pakai Masker’.

“Kebanggaan tersendiri bagi kami menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia yang menampilkan livery khusus pesawat dengan masker. Hal ini juga sejalan dengan komitmen dalam mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang di masa adaptasi kebiasaan baru,” ujar Irfan melalui keterangan resminya, Kamis (1/10).

Irfan memaparkan total pesawat yang akan menggunakan livery bermasker sebanyak 5 armada. Lima pesawat ini akan melayani rute penerbangan domestik maupun rute penerbangan internasional, termasuk destinasi penerbangan Singapura dan Jepang.

Lebih lanjut, dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia akan menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk ‘Fly Your Design Through The Sky’ yang sepanjang Oktober 2020.

Sementara itu, Ketua Komite Penanganan covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Irfan memaparkan total pesawat yang akan menggunakan livery bermasker sebanyak 5 armada. Lima pesawat ini akan melayani rute penerbangan domestik maupun rute penerbangan internasional, termasuk destinasi penerbangan Singapura dan Jepang.

Lebih lanjut, dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia akan menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk ‘Fly Your Design Through The Sky’ yang sepanjang Oktober 2020.

Sementara itu, Ketua Komite Penanganan covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Link: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201001183642-92-553379/pesawat-garuda-pakai-masker-dukung-kampanye-pemerintah

Lion Air akan Buka Maskapai Baru?

super-air-jet-maskapai-baru-lion-air
Maskapai baru Super Air Jet. Sumber Foto: Twitter Gerry Soejatman.

PENGAMAT Penerbangan Gerry Soejatman membuat heboh dengan cuitan terkait maskapai baru Lion Air. Disebutkan namanya adalah Super Air Jet.

Dalam cuitan tersebut dilampirkan pula sebuah gambat pesawat berwarna dominan putih dengan tambahan sedikit hiasan berwarna merah khas Lion Air.

Di badan pesawat itu tertulis ‘Super Air Jet’ yang kemungkinan menjadi nama dari maskapai baru yang tengah disiapkan oleh Lion Air tersebut.

“BREAKING: 1/2. Amidst the pandemic #LionAirGroup has been rumoured to start a new airline. Still scant info on this new mysterious airline and at what stage of the set up it is… But it looks real. Smart? Or Foolish? The branding looks damn rushed though,” cuit Gerry dalam akun Twitter pribadinya @GerryS.

Gerry kemudian mempertanyakan jenis pesawat apa yang akan dipakai Lion Air untuk menjalankan bisnis maskapai barunya tersebut.

“2/2. While the image shows an Airbus A320, the rumors actual fleet is shown to be 737NG instead. At this stage, who knows what it will be like. #LionAirGroup is known to keep its info leaks in riddles. So, as usual, watch this space…#LCC? #ULCC? #HybridAirline? We’ll see,” sambungnya.

Kendati demikian, belum ada konfirmasi terkait dengan kebenaran informasi tersebut. Juga apakah benar Lion Air membuka maskapai baru. (yud)

Link: https://www.radarcirebon.com/2020/10/01/lion-air-akan-buka-maskapai-baru/

Saat Lima Pesawat Garuda “Pakai” Masker…

Livery “Ayo Pakai Masker” pesawat Garuda Indonesia A330-900 neo PK-GHG di Hangar 2 GMF AeroAsia.
Livery “Ayo Pakai Masker” pesawat Garuda Indonesia A330-900 neo PK-GHG di Hangar 2 GMF AeroAsia.(Twitter Garuda Indonesia)

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung program edukasi pemerintah melalui gerakan “Ayo Pakai Masker”. Garuda Indonesia misalnya, menampilkan visual masker pada bagian hidung pesawat jenis Airbus A330-900 Neo. Foto pesawat Garuda Indonesia “pakai” masker itu diunggah akun Twitter resmi maskapai BUMN tersebut @IndonesiaGaruda, Kamis (1/10/2020). Sontak saja foto itu dibanjiri pujian para netizen. “Keren!!!,” tulis akun @bimaevans.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, Garuda Indonesia terus mendukung berbagai upaya yang dilaksanakan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19. “Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia yang menampilkan livery khusus pesawat dengan masker,” ujar Irfan dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin.

Irfan menambahkan, pihaknya menyadari bahwa upaya pencegahan penyebaran pandemi Covid-19 tentunya memerlukan dukungan penuh dan peran aktif berbagai pihak. “Kiranya dengan dengan upaya yang kami lakukan tersebut dapat turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya melalui penggunaan masker,” kata Irfan.

Irfan menjelaskan, ada lima pesawat milik Garuda Indonesia yang bagian depannya menampilkan visual masker. Nanntinya, pesawat-pesawat tersebut akan melayani rute domestik maupun internasional, termasuk rute Singapura dan Jepang.

Sementara itu,  Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasinya terhadap inisiatif yang dijalankan Garuda Indonesia tersebut. ”Apresiasi setinggi-tingginya dari Komite kepada Garuda Indonesia yang ikut berperan aktif mensosialisasikan penggunaan masker dengan cara yang unik. Rencananya selain di dalam negeri, akan juga ada rute yang ke luar negeri. Hal ini sangat baik, agar masyarakat dunia juga tahu, bahwa Indonesia menomor satukan penanganan kesehatan,” ungkap Erick.

Selain penggunaan masker, Garuda Indonesia juga memastikan protokol kesehatan berjalan optimal pada seluruh lini operasional penerbangan. Misalnya melalui prosedur pengaturan jaga jarak antar penumpang, penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi crew yang bertugas, penyediaan makanan dalam wadah sekali pakai dan penyajian dengan tanpa kontak erat.

Selain itu ada juga kegiatan disinfeksi kabin pesawat yang dilakukan secara rutin serta melalui edukasi terhadap penumpang terkait sistem filtrasi udara di pesawat yang mampu menyaring debu, partikel dan virus hingga mencapai 99,97 persen.

Lebih lanjut dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk “Fly Your Design Through The Sky” yang dilaksanakan sepanjang bulan Oktober 2020.

Melalui gelaran kompetisi tersebut, Garuda Indonesia turut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menampilkan hasil kreativitas dan desain livery masker pesawat melalui platform media sosial yang nantinya desain masker livery terbaik akan dipilih untuk dapat digunakan Garuda Indonesia pada pesawat lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Saat Lima Pesawat Garuda “Pakai” Masker…”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/01/182941426/saat-lima-pesawat-garuda-pakai-masker?page=all#page2.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Yoga Sukmana

KELANGSUNGAN BISNIS MASKAPAI KIAN BERAT – PEMBIAYAAN KHUSUS AVIASI DIGAGAS

Bisnis, JAKARTA — Menghadapi kondisi industri penerbangan nasional yang kian berat, kalangan maskapai mendesak dibentuknya lembaga pembiayaan nonbank khusus untuk aviasi guna mendukung kelangsungan bisnis mereka.

Bisnis Indonesia, Rabu, 30 September 2020, halaman 3.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja menegaskan

Terobosan fundamental harus mulai disusun selama satu hingga dua pekan ke depan melalui strategi pembiayaan yang dihadirkan oleh pemerintah. Pasalnya, selama ini nilai tukar rupiah menjadi momok

utama bagi industri penerbangan yang dapat menggerus operasional maskapai.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, kata Denon, bisnis penerbangan dapat terpinggirkan dengan beban

risiko yang terus meningkat. Apalagi saat ini dunia usaha sedang menghadapi kondisi darurat akibat bencana nonalam yang disebabkan pandemi Covid-19. Adanya semacam proteksi dari pemerintah, kata Denon, sangat dibutuhkan agar kelangsung bisnis penerbangan dapat terjaga.

Lembaga yang diusulkan oleh INACA pada prinsipnya seperti yang sudah berjalan saat ini untuk pembiayaan ekspor impor, yaitu Lembaga Pembiyaan Ekspor Indonesia (Indonesia Exim Bank). Model pembiayaan dari lembaga khusus semacam itu, kata Denon, bisa juga dipertimbangkan untuk direalisasikan guna mendukung kelangsungan bisnis maskapai penerbangan.

Menurut dia, dalam kondisi yang serba sulit saat ini, pemerintah harus hadir secara nyata dalam industri transportasi udara nasional. “Lembaga ini bisa diinisiasi sejak awal, karena musuh utama maskapai nilai tukar menjadi kesulitan tersendiri bagi industri penerbangan karena nilainya bergeser dari waktu ke waktu. Ini untuk mengurangi ketergantungan dari lembaga dan bargaining power maskapai cukup kuat,” ujarnya, Selasa (29/9).

Denon, yang juga CEO Whitesky Aviation tersebut, mengemukakan bahwa jumlah penumpang transportasi udara di Tanah Air hingga Agustus mencapai 2 juta hingga 3 juta per bulannya. Angka ini hanya mencapai 30% dibandingkan dengan pencapaian pada 2019. Adapun jumlah penumpang pada 2019 dibandingkan dengan tahun sebelumnya telah terjadi penurunan sekitar 20%. Jumlah penumpang pada 2018 tercatat sebesar 115 juta orang dan pada 2019 berjumlah 91 juta orang.

“Kami melihat ada upaya realistis menghadapinya di mana demand yang ada saat ini tidak bisa kembali seperti pada 2019. Upaya memangkas biaya dan mengurangi beban harus dilakukan secara bertahap,

sehingga pasar maskapai yang saat ini mencapai 40% secara realistis bisa dicapai,” papar Denon.

TIDAK MUDAH

Terkait dengan menjaga kelangsungan bisnis penerbangan, Kementerian Perhubungan mendukung upaya maskapai dalam bernegosiasi dengan perusahaan sewa pesawat (lessor) meski tergolong tidak mudah, karena klausul kontrak tidak secara khusus membahas kondisi darurat seperti pandemi saat ini.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto mengemukakan pada umumnya sistem pembiayaan pesawat udara yang diberikan lessor adalah dengan operating lease (sewa) dan beberapa lessor mendapatkan pembiayaan melalui bank terkemuka dunia. Dia mengakui pandemi Covid-19 berdampak berat kepada lessee yang tidak bisa membayar biaya sewa pesawat sesuai jadwal yang telah disepakati. Namun sayangnya di dalam konteks perjanjian sewa pesawat secara umum tidak dibahas khusus mengenai wabah dan kewajiban lessee kepada lessor bisa dikatakan absolut.

“Alhasil dalam hal terjadi wabah negosiasi untuk restrukturisasi menjadi hal yang tidak mudah.” Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sekitar 75% atau 483 unit dari total 641 unit pesawat AOC 121 atau Air Operator Certifi cate menggunakan skema sewa pesawat udara. Sementara itu untuk AOC 135 sekitar 38% di antaranya atau 124 unit dari total 320 unit yang menggunakan sewa.

Pesawat dengan kapasitas di atas 30 kursi penumpang dikategorikan sebagai AOC 121, sedangkan pesawat berkapasitas di bawahnya atau borongan ditandai dengan AOC 135. “Pemerintah mendukung

kondisi pembiayaan pesawat. Apa yang bisa kami dukung, pasti kami dukung. Kami juga memonitor terus langkah gugatan di Prancis dan London. Karena meskipun sama-sama di Eropa standar memberlakukan perjanjian b to b berbeda,” kata Novie.

Sebanyak 15 badan usaha niaga berjadwal nasional melakukan pengurangan frekuensi meski telah kembali melayani rute penerbangan domestik periode summer 2020, kecuali TransNusa yang telah berhenti sementara pada 2019.

Untuk rute internasional, maskapai nasional juga mengurangi rute dan frekuensinya. Garuda Indonesia dari 30 rute hanya beroperasi 11 rute, sedangkan AirAsia dari 25 rute hanya melayani 5 rute pada Juli 2020.

Dimintai komentarnya, Hendra Ong, praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, menjelaskan maskapai dan perusahaan leasing menerapkan empat skema transaksi pesawat yang berlaku secara internasional dan juga diterapkan di Indonesia. Di antaranya direct financing, finance lease, operating

lease serta sale and lease back.

Dari skema-skema tersebut tidak ada klausul kondisi darurat force majeure melainkan net lease. Alhasil, ketika pesawat didistribusikan kepada maskapai maka seluruh kewajiban pembayaran dan pemeliharaan harus dilakukan sesuai dengan kontrak.

“Apapun yang terjadi termasuk ketika ada Covid-19 kewajiban pembayaran rental, termasuk pemeliharaan tetap harus dilakukan. Namun lessor sebenarnya juga reasonable. Selama 6 bulan ini ada yang melakukan restrukturisasi amendemen dan penyesuaian bunga,” ujarnya tanpa merinci maskapai dimaksud.

Anitana Widya Puspaanitana.puspa@bisnis.com