Maskapai Lion Air Digugat Pailit

Pesawat Lion Air Boeing 737-800NG.
Pesawat Lion Air Boeing 737-800NG.(Dokumentasi Rahmad Dwi Putra)

JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang warga bernama Budi Santoso menggugat pailit PT Lion Mentari Airlines atau Lion Air di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada 22 Oktober 2020 lalu terkait masalah utang.  Dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), Sabtu (24/10/2020), perkara tersebut diajukan dengan nomor 343/Pdt.Sus- PKPU/2020/PN Niaga Jkt.Pst. Penggugat meminta pengadilan menetapkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara terhadap Termohon PKPU PT Lion Mentari Airline paling lama 45 hari terhitung sejak putusan a quo diucapkan.

“Mengabulkan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan oleh Pemohon PKPU terhadap termohon PKPU dan menyatakan termohon PKPU berada dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,” bunyi petitum yang diajukan Budi Santoso. Pemohon juga meminta pengadilan menunjuk dan mengangkat hakim pengawas dari hakim PN Jakarta Pusat untuk mengawasi proses PKPU terhadap termohon.

Dalam permohonannya itu, Budi Santoso juga menunjuk dan mengangkat Ronald Antony Sirait dari kantor pengacara Sirait, Sitorus, & Associates dan Monang Christmanto Sagala yang berkantor di Hotma Sitompul & Associates sebagai tim pengurus. “Untuk bertindak sebagai tim pengurus untuk mengurus harta termohon PKPU dalam hal termohon PKPU dinyatakan dalam PKPU Sementara dan/atau mengangkat sebagai kurator dalam hal termohon PKPU dinyatakan pailit,” bunyi petikan permohonan perkara. Terakhir, Budi juga memohon agar seluruh biaya perkara dibebankan kepada pihak maskapai tersebut. Sedangkan status perkara dinyatakan dalam penetapan majelis hakim.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Maskapai Lion Air Digugat Pailit”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/24/083420926/maskapai-lion-air-digugat-pailit.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris

Berlaku Besok, Pemerintah Hapus Airport Tax di 13 Bandara

Calon penumpang di bandara berjalan menuju pesawat terbang komersil. (Foto ilustrasi)
Calon penumpang di bandara berjalan menuju pesawat terbang komersil. (Foto ilustrasi)

VIVA – Pemerintah menghapus biaya Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau seringkali dikenal sebagai Passenger Service Charge (PSC) di 13 bandara yang ditentukan. Pembebasan Airport Tax itu diberikan kepada para penumpang yang berangkat dalam upaya mendorong kebangkitan industri penerbangan dan pariwisata.

“Setiap penumpang tidak dibebani biaya PSC, karena akan dikeluarkan dari komponen biaya tiket, dan biaya PSC-nya akan ditagihkan oleh operator bandara kepada Pemerintah,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Kamis.

Stimulus PJP2U ini akan diberlakukan bagi calon penumpang yang membeli tiket mulai dari tanggal 23 Oktober 2020 jam 00.01 WIB hingga 31 Desember 2020 jam 23.59 WIB. “Dan tiket yang dibeli untuk penerbangan sebelum jam 00.01 tanggal 1 Januari 2021,” katanya.

Hal tersebut disampaikan usai Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pemberian Stimulus Penerbangan Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara dan Pemberian Stimulus Pelayanan Jasa Kalibrasi Fasilitas Penerbangan, yang antara lain dihadiri oleh Dirut PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, Dirut PT Angkasda Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, serta Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Denon Prawiraatmadja.

Dikatakan Novie, pandemi COVID-19 menjadi mimpi buruk bagi industri penerbangan yang berdampak pada anjloknya arus penumpang dari dan ke berbagai daerah, sehingga pemerintah melalui Kementerian Perhubungan perlu memberikan insentif atau stimulus penerbangan.

Harapan dari stimulus Tarif PJP2U ini, katanya, akan memberikan keringanan bagi para penumpang untuk bepergian menggunakan jasa transportasi udara yang akhirnya akan membangkitkan pertumbuhan industri lainnya seperti pariwisata dan UMKM.

Stimulus berupa penyediaan biaya kalibrasi fasilitas navigasi penerbangan dan alat bantu pendaratan pesawat yang menjadi kewajiban operator bandara baik Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, Bandara Hang Nadim Batam dan Bandara Komodo-Labuan Bajo ditanggung oleh Pemerintah. Sehingga, dapat meringankan beban biaya operasional operator bandara akibat pandemi COVID-19.

Dikatakan, stimulus tarif PJP2U atau PSC akan berlaku di 13 bandara udara yaitu Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK), Hang Nadim, Batam (BTH), Kuala Namu, Deliserdang (KNO), I Gusti Ngurah Rai, Denpasar (DPS), Yogyakarta Internasional, Kulon Progo (YIA), Halim Perdanakusuma, Jakarta (HLP), Internasional Lombok, Praya (LOP), Jenderal Ahmad Yani, Semarang (SRG), Sam Ratulangi, Manado (MDC), Komodo, Labuan Bajo (LBJ), Silangit (DTB), Blimbingsari, Banyuwangi (BWX), Adi Sucipto, Yogjakarta (JOG).

Stimulus PJP2U ini tentunya adalah berita baik bagi masyarakat dan industri penerbangan, diharapkan dengan stimulus ini masyarakat akan mendapatkan keringan biaya perjalanan menggunakan maskapai dengan berbagai tujuan, yang akhirnya akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah, seperti industri pariwisata, sektor UMKM dan juga industri lainnya.

Tentu saja di tengah pandemi ini diharapkan masyarakat pengguna jasa transportasi udara tetap mengutamakan protocol Kesehatan dengan tetap menerapkan 3 M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dan juga menjaga jarak.

Kemenhub berharap bagi operator penerbangan maupun operator bandar udara dengan adanya stimulus PJP2U menjadi berita baik, dengan harapan peningkatan pengguna jasa transportasi udara, namun di sisi lain para pemangku kepentingan penerbangan tetap diwajibkan menaati SE Dirjen Nomor 13 Tahun 2020. (Ant)

Link: https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1314905-berlaku-besok-pemerintah-hapus-airport-tax-di-13-bandara

AirAsia X Berhenti Beroperasi di Indonesia, Ada Apa?

Foto Pesawat Airbus A330-900 yang dipesan AirAsia X(dok AirAsia X, Airbus)

JAKARTA, KOMPAS.com – Maskapai AirAsia X berencana menutup operasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, maskapai yang merupakan bagian dari AirAsia Group itu belum dapat beroperasi sejak Maret lalu. Deputy Chairman Air Asia X Lim Kian Onn mengatakan, penutupan operasional juga merupakan bagian dari restrukturisasi yang tengah dilakukan maskapai guna menghapus utang sebesar 63,5 miliar ringgit atau setara Rp 222 triliun (asumsi kurs Rp 3.500 per ringgit).

Lim mengaku kesulitan untuk mendapatkan persetujuan dari para investor dan kreditur. Pasalnya, mereka merasa kecewa dan meminta meminta persyaratan yang lebih baik, termasuk ekuitas gratis untuk utang yang dihapuskan. Namun, Lim menambahkan, hal itu tidak mungkin dipenuhi oleh maskapai penerbangan.  Meskipun begitu, Lim memastikan bahwa pihaknya akan menemukan jalan tengah guna memajukan bisnis maskapai.

“Tidak ada yang bisa mendapatkan keuntungan dari ditutupnya usaha kami,” ujarnya dikutip dari The New Straits Times, Senin (19/10/2020). Sebagai informasi, AirAsia X merupakan maskapai yang difokuskan untuk melayani penerbangan jarak jauh, dengan waktu terbang lebih dari 4 jam. CEO AirAsia Group Tony Fernandes pun mengakui, penerbangan jarak jauh akan memakan waktu pulih lebih lama ketimbang jarak dekat. “Business travel, penerbangan antarbenua, first class travel, akan membutuhkan waktu lama untuk bangkit,” ucap Fernandes.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “AirAsia X Berhenti Beroperasi di Indonesia, Ada Apa? “, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/19/140800926/airasia-x-berhenti-beroperasi-di-indonesia-ada-apa.
Penulis : Rully R. Ramli
Editor : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Kiat Maskapai Bertahan Saat Pandemi: Thai Airways Jualan Gorengan, AirAsia Bisnis Akikah

Gerai penjualan patong-go di gedung THAI Catering, Bangkok.
Gerai penjualan patong-go di gedung THAI Catering, Bangkok.(FACEBOOK THAI CATERING)

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyebaran pandemi virus corona ( Covid-19) membuat performa industri maskapai babak belur. Jumlah penumpang anjlok seiiring dengan pembatasan aktivitas di berbagai negara. Tak mau tinggal diam menanti ancaman kebangkrutan, perusahaan maskapai penerbangan terpaksa merambah bisnis lain agar bisa tetap bertahan. Salah satu kiatnya yakni memanfaatkan anak usaha atau divisi bisnis katering untuk meraup pendapatan tambahan. Sebagaimana diketahui, industri kuliner memang relatif kebal terhadap pandemi Covid-19. Belanja masyarakat yang masih tinggi terhadap konsumsi makanan jadi tolok ukurnya. Berikut contoh dua maskapai penerbangan yang terjun ke bisnis kuliner.

1. AirAsia buka bisnis daging akikah

Maskapai penerbangan swasta terbesar Malaysia ini baru saja mengumumkan langkah bisnis dengan terjun ke perdagangan daging akikah. Populasi muslim di Negeri Jiran yang besar, membuat prospek bisnis daging kambing untuk aqiqah sangat potensial. Selain itu, AirAsia juga fokus menggarap pasar umat muslim di luar negeri yang jadi wilayah operasional armada pesawat AirAsia seperti Timur Tengah, Bangladesh, Thailand, dan India. Permintaan daging akikah selalu tinggi dan tak mengenal musim. Air Asia sendiri meluncurkan platform penjualan online bernama Ikhlas yang bisa diakses di laman ikhlas.com/aqiqah. Bisnis daging akikah ini dijalankan anak perusahaannya, Ikhlas Com Travel Sdn Bhd yang berkantor pusat di Kuala Lumpur Sentral, Kuala Lumpur, Malaysia.

Harga kambing yang ditawarkan bervariasi yakni antara RM 499 atau sekitar Rp 1,77 juta (kurs Rp 3.500) dan paling mahal sebesar RM 799 atau sekitar Rp 2,83 juta. “Sebagai bagian dari ekspansi bisnis digital grup AirAsia, Ikhlas, lini bisnis airasia.com yang melayani platform gaya hidup Muslim hari ini meluncurkan layanan terbarunya, aqiqah,” tulis Air Asia di laman resminya seperti dikutip pada Senin (12/10/2020).

2. Thai Airways jual gorengan

Thai Airways adalah satu contoh maskapai yang terbilang sukses menggeluti bisnis kuliner di luar katering penerbangan di saat pandemi Covid-19. Tak tanggung-tanggung, maskapai flag carrier ini bahkan mengandalkan jualan gorengan.

Gorengan yang dijual Thai Airways cukup populer bagi masyarakat Thailand, khususnya di Bangkok. Perusahaan ini memanfaatkan aset kateringnya untuk memproduksi gorengan yang diberi nama Patong-go tersebut.

Untuk penjualannya, selain menyewa tempat di berbagai lokasi strategis, Thai Airways juga memanfaatkan aset-aset propertinya seperti kantor di berbagai sudut kota untuk lokasi berjualan. Setiap orang, orang-orang rela mengantre untuk membeli Patong-go sejak dibuka mulai pagi hari. Dikutip dari Bangkok Post, setiap kotak dijual seharga 50 baht (Rp 23.600) yang berisi tiga gorengan dan sebungkus saus celup yang terbuat dari ubi ungu dan telur custard. Beberapa lokasi penjualannya antara lain toko roti Puff & Pie di pasar Or Tor Kor, di kantor pusatnya di distrik Chatuchak, gedung Rak Khun Tao Fa, gedung Thai Catering di distrik Don Muang, serta kantor cabang Thai Airways di Silom. Thai Airways tak hanya menjual gorengan, lini bisnis kateringnya juga dimanfaatkan untuk menjual roti. Perusahaan juga menyulap restoran menjadi kabin pesawat kelas satu. Untuk membangun suasana, restoran itu dilengkapi dengan kursi yang nyaman dan awak kabin yang perhatian.

Thai Airways restoran pop up di Bangkok, Thailand.
Thai Airways restoran pop up di Bangkok, Thailand. (Dok. AFP)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kiat Maskapai Bertahan Saat Pandemi: Thai Airways Jualan Gorengan, AirAsia Bisnis Akikah”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/12/150600626/kiat-maskapai-bertahan-saat-pandemi-thai-airways-jualan-gorengan-airasia.
Penulis : Muhammad Idris
Editor : Muhammad Idris

Tuesday’s Market Minute: Southwest Asks Union Employees For Pay Cuts

Southwest Airlines Co (NYSE: LUV) is asking its employees to agree to pay cuts for the first time through the end of next year. This notion is specific to union employees, and the airline has said is the trade-off to avoiding furloughs and future job cuts. Non-union salaries will already be cut by at least 10% until the beginning of 2022. And the Southwest CEO Gary Kelly is also already foregoing his salary entirely through 2021, with several senior-level executives taking a 20% pay cut.

While it is not news that the airlines as a whole have been one of the hardest-hit sectors throughout the pandemic, it remains unclear when they will see any degree of relief. Airline travel demand remains down 70% compared to a year ago despite receiving federal aid of $25 billion dollars earlier this year. Under the terms of the government package, all airlines were banned from laying off or furloughing any employees until October 1.

As October quickly crept up and federal aid restrictions lifted, the airlines began taking necessary measures to remain afloat. American Airlines Group Inc (NASDAQ: AAL) laid off roughly 19,000 employees and United Airlines laid off about 13,000 employees within the last week.

While another round of stimulus has been in talks, a formal package remains unapproved. U.S. House Speaker Nancy Pelosi even asked the U.S. airline executives on Monday to hold off on further job cuts, promising that relief is on the way. The Southwest Airlines’ CEO has confirmed the company can avoid job losses if these terms are reached within the unions by the start of 2021, also noting “I feel like we have a moral obligation to them.”

Southwest stock remains down about 28% this year, outperforming its airline peers who have on average lost about 50% of their value in the last 8 months.

Link: https://www.yahoo.com/news/tuesdays-market-minute-southwest-asks-142348948.html?.tsrc=daily_mail&uh_test=1_04

Covid-19 Vaccine Delivery Will Present Tough Challenge to Cargo Airlines

Covid-19 Vaccine Delivery Will Present Tough Challenge to Cargo Airlines

  • Inoculations for the new coronavirus will require thousands of extra flights, taxing stretched airlines
  • UPS is combining multiple refrigerators at its airport hubs to store vaccines in transit.

The pandemic has revealed shortcomings in global supply chains and forced business to make logistics a bigger strategic priority. Successfully delivering Covid-19 vaccines will test manufacturers and shippers on what lessons have been learned.
“If 50 million doses were available today, could we distribute them?” asked Glyn Hughes, head of cargo at the International Air Transport Association, a trade group. “The answer is almost certainly ‘No’, for every jurisdiction.”
The air-cargo industry is making plans for delivering as many as 20 billion Covid-19 vaccination doses, even before regulators have approved any of the multiple treatments under development. Shippers say they are having to plan without knowing exactly how many vaccine doses they’ll have to ship, where they will be manufactured and how cold they have to be kept.
Pharmaceutical companies and shippers say they expect the bulk of vaccine supplies to be transported by air. Cargo-airline executives are working on a delivery schedule that assumes initial batches become available during the traditional peak season for shipping that runs from fall through early February.
Carriers such as FedEx Corp. FDX 0.44% and the DHL arm of Deutsche Post AG DPSGY 0.22% have started preparations such as introducing new temperature-monitoring systems to track future vaccine shipments. United Parcel Service Inc. UPS -0.41% and Deutsche Lufthansa AG are building “freezer farms” combining multiple refrigerators at their airport hubs to store vaccines in transit.
Yet cargo flights are fast filling up through February with bookings for consumer electronics, apparel and industrial parts through the holiday season and new year, said airline executives. This year’s peak season is expected to include a lift from the delayed iPhone 5G from Apple Inc. and Sony Corp.’s PlayStation 5.
“We’re planning for the mother of all peaks,” said Don Colleran, president of FedEx’s express division, on an investor call last month.
Airlines said they would make room for essential supplies such as vaccines, just as they have for personal protective equipment throughout the pandemic.
Most of the potential vaccines have to be kept at a low constant temperature throughout the journey to prevent spoiling, according to cargo experts. These fall into two temperature ranges—around freezing and about minus 70 degrees Celsius—with very different transport and storage requirements.
Pharma executives said spoilage rates for other vaccines during transport range from 5% to as much as 20% because of poor temperature control.
“This is going to be one of the biggest challenges for the transportation industry,” Michael Steen, chief operating officer at Atlas Air Worldwide Holdings Inc., said in an interview. Atlas is one of the largest cargo airlines, flying freight on behalf of customers including Amazon.com Inc. and DHL.
Cargo executives said they expect it will take two years for a vaccine to reach all of the world’s population, with particular challenges in some emerging markets where infrastructure is limited.
The air-cargo industry isn’t starting from scratch. Pharma products have been one of the fastest-growing and most profitable cargo types over the past decade. Shippers have developed increasingly sophisticated supply chains for vaccines in recent years, especially for the flu. Gene therapies, another booming area, already require transport and storage at very low temperatures.
Planning flu-season vaccine deliveries typically starts months ahead and includes analyzing which routes and airports carry the highest risk for delays and spoilage, said Larry St. Onge, president of DHL’s life sciences and health care unit.
DHL is applying that analysis to potential Covid-19 vaccines, which will have more-urgent delivery needs and far larger volume.
IATA estimates transporting a single dose to the global population would require the equivalent of 8,000 fully-laden Boeing Co. 747 flights, based on dimensions for vials and packaging provided by pharma companies. A recent study by DHL and McKinsey & Co. pegged demand at 15,000 flights, while including syringes and protective equipment for medical staff would increase the cargo-space requirement.
Pharma shipments already account for around 1.9% of global air-cargo volume, said IATA, and adding Covid-19 vaccines could double that share. Not every freighter jet is able to handle very cold cargo because of regulatory restrictions on how much dry ice they can transport to cool them, said executives.
Air-cargo capacity is already tight, with flights flying fuller than before the pandemic started. International air-cargo capacity was down 32% in August from a year earlier while demand was only 14% lower.
The pandemic-driven travel downturn has removed from service hundreds of passenger jets and the belly space that once carried cargo. More freighters are joining the fleet, with Atlas returning stored 747s from the desert and passenger airlines converting around 100 planes to carry freight in their cabins.
Covid-19 vaccine makers such as Pfizer Inc. have already begun manufacturing doses to be ready for shipment should regulators authorize their use. However, the uncertainty over approval timing and shipping requirements has meant they have stopped short of booking space on cargo flights, said airline executives.
The U.S. government last month outlined its initial plans for distributing vaccines domestically under its Operation Warp Speed program run by the Department of Health and Human Services and the Pentagon, as well as the Centers for Disease Control and Prevention.
McKesson Corp. , one of the world’s largest drug wholesalers, has been contracted by CDC to ship some vaccine types in the U.S. It hasn’t detailed how they would be transported, and air-cargo executives said they haven’t signed any Covid-19 vaccine-related deals yet. McKesson declined to comment.
President Trump said during the opening presidential debate last week that the military would support distribution of the vaccine. The Pentagon said it doesn’t expect to have to use military transport aircraft, except to very remote areas. “Our best military assessment is that there is sufficient U.S. commercial-transportation capacity to fully support vaccine distribution,” said a spokesman.

World First Hydrogen-Electric Passenger Plane Flight

Given the role that metrology plays in the manufacturing and support of commercial and military aviation Metrology.News believes that the following news story is of measurable significance, and worthy of bringing to the attention of the metrology sector, as the aviation industry takes a step-forward in decarbonising commercial aviation. 

ZeroAvia, a leading innovator in decarbonising commercial aviation, has completed the world first hydrogen fuel cell powered flight of a commercial-grade aircraft. The flight took place at the company’s R&D facility in Cranfield, England, with the Piper M-class six-seat plane completing taxi, takeoff, a full pattern circuit, and landing. 

ZeroAvia’s achievement is the first step to realising the transformational possibilities of moving from fossil fuels to zero-emission hydrogen as the primary energy source for commercial aviation. Eventually, and without any new fundamental science required, hydrogen-powered aircraft will match the flight distances and payload of the current fossil fuel aircraft. 

This major milestone on the road to commercial zero-emission flight is part of the HyFlyer project, a sequential R&D programme supported by the UK Government and follows the UK’s first ever commercial-scale battery-electric flight, conducted in the same aircraft in June. ZeroAvia will now turn its attention to the next and final stage of its six-seat development program – a 250-mile zero emission flight out before the end of the year. The demonstration of this range is roughly equivalent to busy major routes such as Los Angeles to San Francisco or London to Edinburgh. 

​“It’s hard to put into words what this means to our team, but also for everybody interested in zero-emission flight. While some experimental aircraft have flown using hydrogen fuel cells as a power source, the size of this commercially available aircraft shows that paying passengers could be boarding a truly zero-emission flight very soon. All of the team at ZeroAvia and at our partner companies can be proud of their work getting us to this point, and I want to also thank our investors and the UK Government for their support.” comment’s Val Miftakhov, ZeroAvia CEO. 

ZeroAvia’s innovation programme in the UK is part-funded through the UK Government’s Aerospace Technology Institute (ATI) Programme. Through the HyFlyer project, ZeroAvia is working with key partners the European Marine Energy Centre (EMEC) and Intelligent Energy to decarbonise medium-range small passenger aircraft by demonstrating powertrain technology to replace conventional engines in propeller aircraft. Intelligent Energy will optimise its high power fuel cell technology for application in aviation whilst EMEC, producers of green hydrogen from renewable energy, will supply the hydrogen required for flight tests and develop a mobile refuelling platform compatible with the plane. 

In addition to all the aircraft work, ZeroAvia and EMEC have developed the Hydrogen Airport Refuelling Ecosystem (HARE) at Cranfield Airport – a microcosm of what the hydrogen airport ecosystem will look like in terms of green hydrogen production, storage, refuelling and fuel cell powered-flight.

This also marks another world’s first – a fully operational hydrogen production and refueling airport facility for primary commercial aircraft propulsion. The successful flight represents good news for the aviation industry’s role in supporting the net zero transition, but also raises hopes for innovation that can reduce commercial challenges in the medium term, particularly important for the industry as it considers the post pandemic recovery.

ZeroAvia’s hydrogen-electric powertrain is projected to have lower operating costs than its jet-fuelled competition due to lower fuel and maintenance costs. The company plans to control hydrogen fuel production and supply for its powertrains, and other commercial customers, substantially reducing the fuel availability and pricing risks for the entire market.

Link: https://metrology.news/world-first-hydrogen-electric-passenger-plane-flight/

Pesawat Garuda Pakai Masker, Dukung Kampanye Pemerintah

Garuda Indonesia meluncurkan pesawat dengan corak visual bermasker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.
Garuda Indonesia meluncurkan pesawat dengan corak visual bermasker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.(Dok. Garuda Indonesia).

Jakarta, CNN Indonesia — 

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk meluncurkan livery atau corak khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan pesawat Airbus A330-900 Neo.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan peluncuran livery masker pesawat ini merupakan bentuk dukungan terhadap program edukasi pemerintah melalui kampanye ‘Ayo Pakai Masker’.

“Kebanggaan tersendiri bagi kami menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia yang menampilkan livery khusus pesawat dengan masker. Hal ini juga sejalan dengan komitmen dalam mengedepankan aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang di masa adaptasi kebiasaan baru,” ujar Irfan melalui keterangan resminya, Kamis (1/10).

Irfan memaparkan total pesawat yang akan menggunakan livery bermasker sebanyak 5 armada. Lima pesawat ini akan melayani rute penerbangan domestik maupun rute penerbangan internasional, termasuk destinasi penerbangan Singapura dan Jepang.

Lebih lanjut, dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia akan menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk ‘Fly Your Design Through The Sky’ yang sepanjang Oktober 2020.

Sementara itu, Ketua Komite Penanganan covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Irfan memaparkan total pesawat yang akan menggunakan livery bermasker sebanyak 5 armada. Lima pesawat ini akan melayani rute penerbangan domestik maupun rute penerbangan internasional, termasuk destinasi penerbangan Singapura dan Jepang.

Lebih lanjut, dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia akan menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk ‘Fly Your Design Through The Sky’ yang sepanjang Oktober 2020.

Sementara itu, Ketua Komite Penanganan covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Link: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201001183642-92-553379/pesawat-garuda-pakai-masker-dukung-kampanye-pemerintah

Lion Air akan Buka Maskapai Baru?

super-air-jet-maskapai-baru-lion-air
Maskapai baru Super Air Jet. Sumber Foto: Twitter Gerry Soejatman.

PENGAMAT Penerbangan Gerry Soejatman membuat heboh dengan cuitan terkait maskapai baru Lion Air. Disebutkan namanya adalah Super Air Jet.

Dalam cuitan tersebut dilampirkan pula sebuah gambat pesawat berwarna dominan putih dengan tambahan sedikit hiasan berwarna merah khas Lion Air.

Di badan pesawat itu tertulis ‘Super Air Jet’ yang kemungkinan menjadi nama dari maskapai baru yang tengah disiapkan oleh Lion Air tersebut.

“BREAKING: 1/2. Amidst the pandemic #LionAirGroup has been rumoured to start a new airline. Still scant info on this new mysterious airline and at what stage of the set up it is… But it looks real. Smart? Or Foolish? The branding looks damn rushed though,” cuit Gerry dalam akun Twitter pribadinya @GerryS.

Gerry kemudian mempertanyakan jenis pesawat apa yang akan dipakai Lion Air untuk menjalankan bisnis maskapai barunya tersebut.

“2/2. While the image shows an Airbus A320, the rumors actual fleet is shown to be 737NG instead. At this stage, who knows what it will be like. #LionAirGroup is known to keep its info leaks in riddles. So, as usual, watch this space…#LCC? #ULCC? #HybridAirline? We’ll see,” sambungnya.

Kendati demikian, belum ada konfirmasi terkait dengan kebenaran informasi tersebut. Juga apakah benar Lion Air membuka maskapai baru. (yud)

Link: https://www.radarcirebon.com/2020/10/01/lion-air-akan-buka-maskapai-baru/

Saat Lima Pesawat Garuda “Pakai” Masker…

Livery “Ayo Pakai Masker” pesawat Garuda Indonesia A330-900 neo PK-GHG di Hangar 2 GMF AeroAsia.
Livery “Ayo Pakai Masker” pesawat Garuda Indonesia A330-900 neo PK-GHG di Hangar 2 GMF AeroAsia.(Twitter Garuda Indonesia)

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung program edukasi pemerintah melalui gerakan “Ayo Pakai Masker”. Garuda Indonesia misalnya, menampilkan visual masker pada bagian hidung pesawat jenis Airbus A330-900 Neo. Foto pesawat Garuda Indonesia “pakai” masker itu diunggah akun Twitter resmi maskapai BUMN tersebut @IndonesiaGaruda, Kamis (1/10/2020). Sontak saja foto itu dibanjiri pujian para netizen. “Keren!!!,” tulis akun @bimaevans.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, Garuda Indonesia terus mendukung berbagai upaya yang dilaksanakan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19. “Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami menjadi maskapai penerbangan nasional pertama di Indonesia yang menampilkan livery khusus pesawat dengan masker,” ujar Irfan dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin.

Irfan menambahkan, pihaknya menyadari bahwa upaya pencegahan penyebaran pandemi Covid-19 tentunya memerlukan dukungan penuh dan peran aktif berbagai pihak. “Kiranya dengan dengan upaya yang kami lakukan tersebut dapat turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya melalui penggunaan masker,” kata Irfan.

Irfan menjelaskan, ada lima pesawat milik Garuda Indonesia yang bagian depannya menampilkan visual masker. Nanntinya, pesawat-pesawat tersebut akan melayani rute domestik maupun internasional, termasuk rute Singapura dan Jepang.

Sementara itu,  Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengungkapkan apresiasinya terhadap inisiatif yang dijalankan Garuda Indonesia tersebut. ”Apresiasi setinggi-tingginya dari Komite kepada Garuda Indonesia yang ikut berperan aktif mensosialisasikan penggunaan masker dengan cara yang unik. Rencananya selain di dalam negeri, akan juga ada rute yang ke luar negeri. Hal ini sangat baik, agar masyarakat dunia juga tahu, bahwa Indonesia menomor satukan penanganan kesehatan,” ungkap Erick.

Selain penggunaan masker, Garuda Indonesia juga memastikan protokol kesehatan berjalan optimal pada seluruh lini operasional penerbangan. Misalnya melalui prosedur pengaturan jaga jarak antar penumpang, penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi crew yang bertugas, penyediaan makanan dalam wadah sekali pakai dan penyajian dengan tanpa kontak erat.

Selain itu ada juga kegiatan disinfeksi kabin pesawat yang dilakukan secara rutin serta melalui edukasi terhadap penumpang terkait sistem filtrasi udara di pesawat yang mampu menyaring debu, partikel dan virus hingga mencapai 99,97 persen.

Lebih lanjut dalam rangka mengoptimalkan kampanye penggunaan masker tersebut, Garuda Indonesia menyelenggarakan kompetisi desain livery masker pesawat bertajuk “Fly Your Design Through The Sky” yang dilaksanakan sepanjang bulan Oktober 2020.

Melalui gelaran kompetisi tersebut, Garuda Indonesia turut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menampilkan hasil kreativitas dan desain livery masker pesawat melalui platform media sosial yang nantinya desain masker livery terbaik akan dipilih untuk dapat digunakan Garuda Indonesia pada pesawat lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Saat Lima Pesawat Garuda “Pakai” Masker…”, Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2020/10/01/182941426/saat-lima-pesawat-garuda-pakai-masker?page=all#page2.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Yoga Sukmana